Alhamdulillah, Tidak Ada C0r0n4 di Aceh Padahal Shalat Berjamaaah di Masjid

Narasi bahwa korban Covid-19 di Aceh hanya satu orang karena umat muslim di sana tetap salat berjamaah beredar di media sosial. Narasi itu dilengkapi oleh tiga gambar tangkapan layar yang memuat foto salat berjamaah di sebuah masjid. Dalam gambar ini, tertulis bahwa salat tersebut adalah salat Jumat pada 20 Maret 2020 dan salat tarawih di Aceh.

Salah satu akun di Facebook yang membagikan narasi itu adalah akun Fenii Reseller Rgy Skincare, yakni pada Rabu, 29 April 2020. Menurut akun ini, salat berjamaah di Aceh tersebut dilakukan tanpa menjaga jarak aman. Jamaah pun tidak menggunakan masker.

Akun ini pun menyatakan jumlah korban Covid-19 di Aceh yang hanya satu orang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah korban Covid-19 di Vietnam. Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang dianggap berhasil menekan kasus Covid-19 dengan korban hanya sebanyak tujuh orang.

Berikut narasi yang dibagikan oleh akun Fenii Reseller Rgy Skincare:

"Gak perlu belajar dari negara Lain kalau mau memutuskan mata rantai Covid-19.

Kita punya Aceh.

Belajar lah dari Aceh.

Lihat bagaimana cara mereka utk mengatasi wabah Covid-19.

Tetap Melakukan Sholat Berjama'ah di Mesjid!!

Kalaulah memang sholat berjama'ah di mesjid bisa menyebabkan timbulnya banyak korban Covid-19,,, tentulah rakyat Aceh paling bnyk yg jd korban Covid-19. Krn mereka terus berjama'ah.

Tapi Fakta membuktikan Janji Allah.

Penyakit akan dijauhkan dari orang orang yang memakmurkan Mesjid.

Bukan hanya memutuskan mata rantai, tapi Covid-19 tak Mampu hidup berlama2 di Aceh.

Vietnam pun kalah. Vietnam ada 7 korban.

Data menunjukkan Aceh hanya 1 korban.

Gak bisa melawan ketetapan Allah dgn Akal akalan manusia.

Datangi Rumah Allah.

Tamu pasti dijaga oleh Tuannya."

Sebelumnya, Kementerian Agama telah menerbitkan panduan pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadan saat pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus Corona baru, SARS-CoV-2. Salah satunya isinya adalah melaksanakan ibadah, termasuk tarawih, di rumah bersama keluarga.

Benarkah korban Covid-19 di Aceh hanya satu orang karena umat muslim di sana tetap salat berjamaah?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim itu, Tim CekFakta Tempo mengecek data kasus Covid-19 di Aceh dalam situs milik Pemerintah Provinsi Aceh, situs resmi Dinas Kesehatan Aceh serta situs khusus Covid-19 Aceh. Dari dua situs itu, hingga 30 April 2020 pukul 15.00, jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 10 kasus, dengan rincian lima orang dirawat, empat orang sembuh, dan satu orang meninggal. Sementara jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) mencapai 85 kasus, dengan rincian 11 orang dirawat, 73 orang telah dipulangkan, dan satu orang meninggal.

Dilansir dari Tirto.id, Aceh melaporkan kasus positif Covid-19 pertama pada 26 Maret 2020, yakni seorang PDP yang meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainoel Abidin Banda Aceh pada 23 Maret 2020. Pasien tersebut dikonfirmasi positif terinfeksi virus Corona berdasarkan hasil uji Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) yang keluar pada 26 Maret 2020. Sejak pengumuman kasus pertama ini, jumlah kasus positif Covid-19 di Aceh terus bertambah hingga berjumlah 10 orang pada 30 April 2020.

Waspada Transmisi Lokal

Pelaksanaan salat tarawih berjamaah di Provinsi Aceh dianggap sangat berbahaya oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh. Pada 24 April 2020, Ketua IDI Wilayah Aceh Safrizal Rahman mengatakan pengabaian physical distancing atau menjaga jarak aman akan memiliki risiko mengingat penyebaran virus Corona terjadi dari interaksi dan kedekatan sesama manusia.

"Tentu saja kita mengharapkan agar tidak terjadi hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah mengakibatkan penyebaran penyakit ini di Provinsi Aceh. Tapi saya menduga hanya masalah waktu sebelum kita mempunyai transmisi lokal," kata Safrizal kepada Hidayatullah, wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC Indonesia, pada 23 April 2020.

Imbauan untuk menghindari salat berjamaah sebelumnya datang dari Majelis Ulama Indonesia dan Kementerian Agama. Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengimbau umat muslim untuk menghindari kerumunan demi mencegah penyebaran Covid-19. Salah satu caranya adalah dengan menghentikan sementara kegiatan salat berjamaah dan aktivitas lainnya di rumah ibadah.

Meskipun begitu, menurut Asrorun, pembatasan berkerumun bukan berarti membatasi ibadah umat muslim. Sebab, ibadah bisa tetap dilakukan walaupun tanpa berkerumun. "Sekali lagi saya tekankan, pembatasan kerumunan bukan membatasi ibadah karena menurut para ahli kerumunan dalam situasi sekarang menjadi faktor potensial penyebaran wabah," ujarnya seperti dilansir dari Kompas.com.

Asrorun meminta umat muslim untuk menjadikan rumah sebagai sentrum kegiatan ibadah. Menurut dia, ibadah di rumah bisa tetap dilaksanakan dengan maksimal, mulai dari salat tarawih, salat malam, membaca Al Quran, hingga merekatkan hubungan antar anggota keluarga. Dia juga menjelaskan, berdasarkan hadis sahih, sebaik-baiknya salat adalah di rumah. "Hikmah Covid-19 menjadikan rumah kita bercahaya dan juga menjadi sentral kegiatan keagamaan," kata Asrorun.