Masya Allah, Polisi Ini Luangkan Waktu Jadi Guru Ngaji

Bertugas sebagai polisi tidak membuat anggota Bhabinkamtibmas Polres Luwu, Sulawesi Selatan, Aipda Fahmi, menghabiskan waktu untuk tugas kedinasan. Dia selalu meluangkan waktu untuk mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai guru mengaji Alquran.
Setiap sore usai bertugas, Fahmi selalu mendatangi Masjid Raya Babussadah Bajo. Berseragam dinas, Fahmi menuntun satu per satu siswa TPA binaan masjid tersebut belajar membaca Alquran.
Langkah Fahmi disambut baik oleh masyarakat. Dia bahkan ditunjuk menjadi kepala TPA.
Alhamdulillah, kegiatan mengajar mengaji ini sudah berlangsung lama," kata Fahmi, dikutip dari akun Facebook Divisi Humas Polri, Rabu 16 November 2016.
" Tugas Polri adalah pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Selain menjalankan tugas sebagai seorang polisi, ini juga amanah dari masyarakat yang harus dijalankan," ucap Fahmi.
Bagi kebanyakan orang, kuburan dianggap sesuatu yang menakutkan. Tapi tidak bagi Aiptu Widodo Ramelan (52). Sudah 12 tahun terakhir ia dan keluarga tinggal di kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Desa Sidowayah, Rembang.
Pria yang menjabat sebagai Kasi Humas Polsek Lasem ini, setiap harinya menghabiskan waktu bersama keluarga di areal pemakaman itu. Diceritakan Aiptu Widodo, dia mulai menetap di kompleks pemakaman tersebut sejak tahun 2004 silam.
Ia memang sengaja tinggal di areal tersebut, yang merupakan tanah milik negara, dengan alasan untuk kebaikan keluarga.
" Saya ini merupakan keluarga besar. Anak bapak dan ibu saya itu ada 10, dan saya adalah anak nomor 7. Kami pun terhitung berasal dari keluarga yang pas-pasan. Karena saudara saya banyak, ketika ada jatah warisan untuk kami, saya memilih jatah itu saya berikan kepada saudara yang lain, yang mungkin kehidupannya masih kurang beruntung ketimbang saya. Kemudian, saya pilih tinggal di kompleks pemakaman ini," katanya.
Awalnya, ia dibantu rekan-rekannya di kepolisian untuk bisa mendirikan rumah layak huni di areal pemakaman itu. Hingga akhirnya jadilah rumah sederhana berukuran 9x6 meter yang ditempatinya saat ini.
Meski tinggal di kompleks pemakaman, Aiptu Widodo bersama sang istri, Yatni (49) dan empat anaknya sudah terbiasa. Padahal ketika membuka pintu rumah, dan hanya selangkah keluar sudah ada patok-patok kuburan.
Di rumah sederhana itu, Aiptu Widodo juga beternak ayam dan entok. Dengan cara seperti itu, ia berharap bisa menambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Selain itu, dengan beternak, menurutnya juga bisa mengusir jenuh usai bertugas.
Aiptu Widodo ingin mendidik anak-anaknya agar mau belajar hidup sederhana. Tidak gengsi dengan kondisi seperti sekarang ini.
Meski begitu, ke depannya, ia punya rencana untuk pindah dari kompleks pemakaman tersebut.
Karena sudah mendaftarkan diri untuk bisa menghuni perumahan Bhayangkara Residence yang digagas oleh Kapolres Rembang.
Saat ini sudah dibangun perumahan yang diperuntukkan anggota Polri. Lokasinya berada di wilayah Kaliori. Jumlahnya ada sekitar 80 unit.
Aiptu Widodo berharap bisa mendapat rumah di lokasi itu.
" Alhamdulillah, ketika saya ikut mendaftar, bisa lolos verifikasi dan bisa menempati rumah itu nanti. Meski harganya mencapai ratusan juta, namun ada kemudahan yang diberikan dengan cara mengangsur," ungkapnya.
Cium Tangan Dhuafa, Polisi Ini Bikin Haru Jutaan Netizen
Sebuah video baru-baru ini menjadi viral dan ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video tersebut terlihat beberapa polisi tengah memberikan sembako kepada kaum dhuafa lantas mereka mencium tangannya.
Tak pelak video tersebut mengundang keharuan para netizen. Mereka terkesan dengan aksi mulia para polisi itu. Dan rupanya para polisi yang ada dalam video tersebut diketahui sebagai petugas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki sebuah gerakan bernama 'Empati Seribu Rupiah Polda NTB'.
Melalui gerakan ini, para polisi tersebut mengumpulkan uang Rp1.000 secara sukarela untuk kemudian disumbangkan kepada kaum dhuafa secara rutin saat pelaksanaan patroli dialogis.
Yang membuat para netizen terharu menonton video ini bukanlah gerakan donasi yang mereka buat, melainkan kesediaan para polisi tersebut berinteraksi langsung, menyapa bahkan mencium tangan kaum dhuafa yang ditemui di jalan. Tanpa rasa sungkan atau gengsi.
Seperti diungkapkan seorang pemilik akun Facebook Jakhairi, " Bukan seribu rupiah yang bikin saya terharu, tapi ketika para polisi itu mencium tangan kaum dhuafa yang sangat berkesan,"  tulis Jakhairi.
Masya Allah, Polisi Purwakarta Ini Hibahkan Tanah ke Mak Rasem
Kisah ini sungguh menggetarkan. Seorang polisi di Purwakarta, Jawa Barat, tak hanya memberi pelayanan kepada masyarakat. Melainkan mengikhlaskan tanahnya untuk dihibahkan kepada warga kurang mampu.
Brigadir Polisi Kepala Asep Mulyana. Dialah polisi budiman itu. Anggota Satuan Binmas Polres Purwakarta ini menghibahkan sebidang tanahnya kepada Mak Rasem yang kurang mampu.
  Polisi bantu warga tak mampuDikutip dari akun Facebook Divisi Humas Polri, di atas tanah itu akan dibangun sebuah rumah untuk tempat tinggal Mak Rasem.Pembangunan rumah tersebut mendapat sambutan positif dari Kapolres Purwakarta, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Trunoyudo Wisnu Andiko. Dia pun turut memberikan bantuan pembangunan rumah bagi Mak Rasem.
  Polisi bantu warga tak mampuHibah yang dijalankan Asep ternyata mengundang banyak orang untuk turut serta memberikan sumbangan. Mereka di antaranya adalah Kapolsek Cibatu Ajun Komisaris Polisi (AKP) H Herry Nurcahyo dan Camat Cibatu dan para Muspika lain.MasyaAllah.... sungguh kedermawanan itu telah menjadi inspirasi. Mendorong tokoh dan masyarakat lainnya untuk memberikan bantuan.