Cerita Bocah Muslim Di Inggris, Bangun Masjid Di Rumah Sendiri Saat Kota Ditutup Karena Pandemi Covid-19

Seorang bocah lelaki dari Bradford, Yahya Murad Hussain, yang belajar di Bradford Grammar School, memutuskan membangun masjid sendiri di rumahnya saat pemerintah menutup kota karena pandemi Covid-19.

“Ketika saya mendengar bahwa semua masjid ditutup karena virus corona, saya memutuskan untuk membangun masjid di ruang bermain saya,” tutur dia.

“Saya bertanya kepada orang tua saya apakah mereka akan membantu saya membuat kardus sisa dari kemasan meja. Butuh waktu seminggu untuk membuat saya karena saya melukis beberapa bagian dan harus menunggu cat mengering. Saya suka membuat jendela kaca patri dengan pembungkus jalan berkualitas tetapi bagian favorit saya adalah melukis kubah hijau,” lanjutnya.

Yahya juga bercerita tentang momen favoritnya di masjid itu.

“Ketika saatnya untuk shalat tiba, saya melakukan azan dan Iqamat. Orang tua saya shalat di sana bersama saya. Waktu favorit saya untuk berada di masjid saya adalah Maghrib, karena saya bisa menyalakan lampu peri dan rasanya sangat menyenangkan.”

Selain untuk tempat shalat, masjid juga berfungsi sebagai tempat pelipur Yahya.

“Kadang-kadang saya membaca buku di sana, hari ini saya membaca ‘Mengendarai keledai ke belakang’ yang merupakan buku tentang kisah-kisah Mulla Nasruddin yang bijaksana dan bodoh. Ini buku yang sangat lucu,” cerita Yahya.

Berbicara tentang keyakinannya sebagai muslim, Yahya berkata, “Iman saya membantu saya memahami dunia. Itu membuat saya merasa aman dan bahagia. Saya berpikir bahwa saya akan menjadi orang yang berbeda jika saya tidak memiliki iman.”

Terkait Ramadhan yang sebentar lagi akan segera tiba, Yahya pun menuturkan kesannya sebagai seorang anak yang ikut menjalankan ibadah puasa.

“Itu membuat saya bahagia saat Ramadan. Kami menghias rumah dengan balon. Saya memiliki kalender perbuatan baik yang mengingatkan saya untuk melakukan perbuatan baik dan mendapatkan banyak hadiah. Ketika saya bisa berpuasa, saya menyukainya karena saya bisa melakukan sesuatu yang orang dewasa lakukan dan begadang! Dan pada saat yang sama saya menyenangkan Allah.”

Namun, mengingat Ramadhan kali ini diliputi suasana berbeda akibat pandemi Covid-19, Yahya pun merasakannya.

“Kami berkumpul bersama keluarga setiap hari Jumat dan berbuka puasa bersama. Ini akan menjadi Ramadhan yang sangat berbeda tahun ini,” kata dia.

“Tahun lalu saya mencoba puasa di akhir pekan. Ibuku berkata untuk mencoba berpuasa setengah hari karena itu adalah puasa yang panjang tapi aku ingin tetap berpuasa. Saya merasa sangat sulit, itu adalah hari musim panas yang sangat panas dan saya tidak dapat minum air. Tetapi ketika saya membuka puasa di Maghrib, itu membuat saya sadar betapa beruntungnya saya. Saya berterima kasih kepada Allah untuk semua makanan dan minuman lezat yang saya miliki, terutama Vimto!” cerita dia.

Selama penutupan kota karena pandemi Covid-19, Yahya sebagaimana anak lainnya mengisi waktu di rumah dengan melakukan berbagai aktivitas yang disukainya. Dia menyukai ju-jitsu, bola basket, berenang, memanah, menunggang kuda, dan kriket. Tak lupa dia juga mempersiapkan diri untuk bulan Ramadhan. Sala satunya dengan membangun masjid di rumahnya.

Dia pun menegaskan bahwa dirinya akan memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama sepertinya.

“Ya, saya akan mendorong orang lain untuk membangun masjid di rumah. Sangat menyenangkan membangun dan mendekorasi itu. Sangat menyenangkan memiliki tempat khusus di rumah di mana kita semua bisa berdoa bersama. Ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya tepat sebelum Ramadhan, saya berharap kita bisa shalat tarawih di masjid saya,” ujarnya.

Masjid mungkin pernah menjadi jantung komunitas, tetapi selama pandemi Covid-19 saat masjid-masjid tertutup untuk shalat berjamaah, tidak ada yang bisa menghentikan seorang muslim untuk  ‘membangun masjidnya sendiri’ dan menjaga semangat itu di rumah-rumah.