AKHIRNYA Terungkap Pasien Pertama atau Induk Corona (Covid-19), Berawal dari Tragedi 10 Desember 2019

Terungkap sosok diduga ‘pasien nol’ atau orang pertama terinfeksi Virus Corona atau Covid-19, nama dan asal.

Sosok pasien nol atau pasien nol karena bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti bagaimana, kapan, dan mengapa pandemi Virus Corona atau Covid-19 bermula?

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 kini telah menyebabkan 1.155 orang terinfeksi di Indonesia.

Sebanyak 994 masih dirawat, 59 sembuh, dan 102 meninggal.

Demikian data dikutip dari laman Kawal Covid19 kawalcovid19.id, Sabtu (28/3/2020), pukul 19:18 Wita.

Siapa pasien nol?

Seorang penjual udang di Pasar Seafood Huanan, Wuhan, China, kemungkinan merupakan ” pasien nol ” dari pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Berdasarkan pemberitaan Wall Street Journal atau WSJ, pasien itu disebut merupakan perempuan berusia 57 tahun yang bernama Wei Guixian.

Dikutip New York Post, Jumat (27/3/2020), Wei Guixian bisa jadi merupakan orang pertama dari Pasar Seafood Huanan di Wuhan yang terinfeksi Virus Corona.

WSJ mengulas berita harian lokal China, The Paper, dan menceritakan awalnya Wei Guixian bekerja seperti biasa pada 10 Desember saat mengalami gejala demam.

Merasa tidak enak badan, dia segera memeriksakan diri ke klinik terdekat dan kembali bekerja.

Di saat itulah, dia diyakini menyebarkan virus itu.

“Saya merasa lelah. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Wei Guixian.

“Setiap musim dingin, saya selalu menderita flu. Jadi saya kira ini hal biasa,” lanjut dia mengatakan.

Dia kemudian mengunjungi lagi klinik itu pada 11 Desember, dan menerima suntikan.

Tapi karena masih belum sembuh, dia pergi ke Rumah Sakit Nomor 11 Wuhan.

Di rumah sakit, ternyata dokter tidak mampu mendeskripsikan sakit apa sebenarnya Wei Guixian.

Jadi, mereka hanya sebatas memberikan pil.

Segera setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, perempuan yang diyakini adalah “pasien nol” itu merasa kondisinya makin memburuk.

“Saya tidak nyaman. Rasanya seperti tidak punya tenaga,” katanya memaparkan.

Jadi, dia mencoba mendapat opini kedua di Rumah Sakit Persatuan Wuhan.

Di RS terbesar kota tersebut, dokter mengatakan penyakitnya “kejam”, dan menceritakan sejumlah orang di Pasar Seafood Huanan juga mengalami gejala sama seperti dirinya.

Pada akhir Desember 2019, Wei Guixian mengungkapkan dia dikarantina, dengan dokter berhasil menemukan hubungan antara virus dengan pasar.

Pada 31 Desember 2019, sebuah rilis dari Komisi Kesehatan Wuhan menyatakan, Wei Guixian termasuk satu dari 27 pasien yang positif terinfeksi Covid-19.

Selain itu, ibu penjual udang tersebut juga menjadi satu dari 24 kasus yang mempunyai keterkaitan langsung dengan pasar hasil laut itu.

Wei Guixian, yang kini telah pulih dan meninggalkan RS pada Januari menduga, kemungkinan dia terinfeksi dari toilet yang dia pergunakan di pasar.

Dia menuturkan, toilet tersebut dipergunakan secara bersama-sama oleh pedagang daging maupun pengguna pasar lain, dilaporkan The Journal.

Selain Wei Guixian, ada tetangganya sesama pedagang yang terpapar bersama dengan putrinya, keponakan, dan suami keponakannya itu.

“Mungkin bakal sedikit yang akan meninggal akibat wabah ini jika saja pemerintah bergerak cepat,” jelas dia dalam wawancara di Februari.

Dia kemungkinan adalah “pasien nol”.

Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah). Sampel virus diambil dari seorang pasien AS yang terinfeksi. Para ahli menambahkan gambar agar lebih tampak.

Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah). Sampel virus diambil dari seorang pasien AS yang terinfeksi. Para ahli menambahkan gambar agar lebih tampak. (LIVE SCIENCE)

Namun, tidak jelas apakah dia adalah sosok pertama yang menderita virus bernama resmi SARS-Cov-2 itu.

Sejak merebak pada Januari, Virus Corona telah menjangkiti 81.340 dan membunuh 3.292 orang di China, demikian data dari Universitas John Hopkins.

Adapun total di seluruh dunia, hampir 600.000 orang terinfeksi Covid-19, dengan 27 ribu di antaranya dilaporkan meninggal.

Mengapa “Pasien Nol” Penting Ditemukan?

Pihak berwenang di China dan para pakar sejauh ini belum sepakat soal bagaimana wabah Virus Corona, yang sekarang diberi nama Covid-19, bermula.

Lebih jauh lagi, mereka belum tahu, siapa pasien pertama penyakit ini, pasien yang kemudian menyebarkan penyakit.

Ketika terjadi wabah – baik karena virus maupun bakteri – orang pertama yang terkena biasanya disebut sebagai ” pasien nol”.

Seberapa penting mengidentifikasi pasien nol?

Mengidentifikasi orang pertama yang terkena penyakit yang kemudian mewabah dianggap penting karena bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seperti bagaimana, kapan, dan mengapa suatu wabah bermula.

Jawaban-jawaban ini penting untuk mencegah orang-orang terkena penyakit dan juga bisa menjadi pembelajaran serta sumber informasi ketika terjadi wabah serupa di masa mendatang.

Jadi, apakah satu orang bisa memicu wabah besar?

Pada 2014 hingga 2016 terjadi wabah Ebola di kawasan di Afrika Barat, wabah terbesar penyakit ini sejak pertama kali ditemukan pada 1976.

Catatan WHO menunjukkan bahwa penyakit ini membunuh lebih dari 11 ribu dengan angka kasus mencapai 28 ribu.

Wabah berlangsung selama lebih dari dua tahun dan menyebar ke 10 negara, sebagian besar di Afrika, namun juga ditemukan di Amerika Serikat, Spanyol, Inggris dan Spanyol.

Para saintis menyimpulkan bahwa wabah ini berawal dari satu anak di Guinea.

Mereka mengatakan anak ini mungkin terkena Ebola saat bermain di pohon yang juga menjadi rumah koloni kelelawar.

Para ilmuwan ini melakukan ekspedisi ke desa tempat anak ini tinggal, mengambil sampel dan berbicara dengan warga setempat untuk mengetahui sumber wabah.

Hasil penelusuran ini diterbitkan di jurnal EMBO Molecular Medicine.

Siapa pasien nol pertama yang dikenal dalam sejarah?

Sebutan pasien nol mungkin pertama kali diberikan kepada warga New York bernama Marry Mallon.

Ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan Typhoid Mary karena menyebabkan wabah demam tifus di New York pada 1906.

Ia berawal dari Irlandia dan pindah ke Amerika dengan bekerja di keluarga kaya sebagai tukang masak.

Di mana pun ia bekerja, selalu saja ada anggota keluarga yang mengalami demam tifus. Para dokter menggambarkan Mallon sebagai orang yang sehat.

Ia menularkan penyakit namun ia sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda mengidap tifus.

Ada bukti bahwa orang punya “kemampuan yang berbeda dalam menyebarkan virus” dan Mary Mallon masuk dalam kategori orang yang “efektif menularkan penyakit” membuatnya mendapat predikat super-spreader atau “si penyebar super”.

Ketika itu, demam tifus menimpa ribuan warga New York dengan tingkat kematian 10%. Mengapa ada ilmuwan yang tak suka dengan istilah pasien nol?

Banyak pakar kesehatan yang tidak setuju dengan identifikasi pasien pertama yang menularkan penyakit, khawatir orang tersebut akan mengalami akan dianggap sebagai “biang masalah”.

Selain itu, identifikasi seseorang mungkin juga tidak sepenuhnya akurat.

Dugas, seorang pramugara berkewarganegaraan Kanada, menjadi sasaran kemarahan setelah dinyatakan sebagai sumber penyebaran AIDS di Amerika pada 1980-an.

Namun tiga dekade kemudian, para saintis menyimpulkan Dugas tak mungkin sebagai pasien pertama AIDS.

Kajian pada 2016 menunjukkan bahwa virus penyebab AIDS bergerak dari Karibia ke Amerika pada awal dekade 1970-an.

Istilah pasien nol pertama kali dikenal saat terjadi wabah HIV. Awalnya, para peneliti memakai istilah pasien o (huruf o), untuk mengacu ke pasien HIV yang berada di luar (bahasa Inggris: outside) negara bagian California.

Peneliti-peneliti lain “salah paham”, menyebutnya sebagai pasien nol dan istilah itu bertahan hingga sekarang.