Terkadang Kita Terlalu Sibuk Menghijrahkan Penampilan, Sampai Lupa Menghijrahkan Lisan

Di zaman sekarang ini semakin banyak wanita yang masih belum mengetahui secara mendalam tentang adab untuk menjaga lisan bagi wanita.

Seorang Muslimah yang dapat menjaga lisannya mendapatkan banyak keuntungan. Salah satunya, ia dijanjikan masuk surga oleh Rasululah SAW.

“Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya, mulut atau lidah, serta antara kedua kakinya, kemaluannya, maka saya memberikan jaminan surga untuknya.” Rasulullah SAW mengingatkan Muslimah agar berhati-hati menjaga lisan.

Allah SWT memberikan karunia lisan kepada manusia untuk berbicara. Tentu saja karunia tersebut amat luar biasa. Namun sayangnya, banyak dari kita yang sulit mengendalikan lisan.

Seorang muslim hendaknya menegakkan hak Allah dengan benar, dan menunaikan hak sesama dengan benar pula. Dan menjadi kewajibannya adalah bergaul dengan orang lain tanpa menyakiti mereka, baik dengan lisannya maupun tangannya.
Seorang muslim adalah orang yang selamat dan menyelamatkan (aslam). Yakni selamat dari berbuat dzalim dan menyelamatkan orang lain dari perbuatan dzalimnya.

Perbuatan dzalim dapat melingkupi perbuatan, persangkaan, dan perkataan. Jangankan perbuatan, perkataan seseorang pun dapat mendatangkan mudharat atau melukai hati orang lain. Dan seorang muslim adalah orang yang orang lain dapat selamat dari lisan dan tangannya.

Di antara keburukan lisan manusia adalah tajassus (mencari-cari kesalahan oranglain), ghibah (menggunjing keburukan orang lain), berdusta dan menyebarkan kedustaan (termasuk hoax), mencela dan mengumpat orang lain. Betapa kuatnya pengaruh lisan atau ucapan terhadap kedudukan seseorang di akhirat nanti.

Kebiasaan seorang Muslimah yang membicarakan orang lain (menggunjing atau gibah) sebaiknya dihentikan. Sebab, pahala orang yang menggunjing akan hilang dan diambil oleh orang yang dibicarakan.

Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya, yaitu:

1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar

Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka pastikan bahwa pembicaraan kita bersih dari bohong, bersih dari dusta. Kata-kata kita ini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

2. Berkatalah sesuai tempatnya

“Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam,” artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”

Tidak setiap kata sesuai di setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang dibutuhkan. Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur siapa yang diajak bicara.

3. Jagalah Kehalusan Tutur Kata

Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan memperhalus dan menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau silet yang siap melukai orang lain. Betapa banyak kata-kata yang keluar yang rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang. Begitu enak, tapi yang mendengar malah sebaliknya.

4. Berkatalah yang Bermanfaat

Makin banyak kepeleset lidah, makin banyak masalah dan dosanya, makin banyak dosa, nerakalah tempatnya. Maka, “Fal yakul khairan au liyasmut,” Berkatalah yang benar atau diam,” demikian Sabda Nabi.

Diujung pembahasan tentang pentingnya menjaga lisan, mari kita selalu menjaga diri dari ucapan yang tidak bermanfaat seperti gibah, menceritakan keburukan orang lain maupun berbohong dan memfitnah.

Banyak berbicara yang tidak bermanfaat membuat hati menjadi keras, jika kira tidak mampu untuk menjaga semua itu maka lebih baik diam, dan diam merupakan pilihan paling bijak dan menyelamatkan baik dunia maupun akhirat.

Tidak sedikit persahabatan menjadi retak hanya karena perkataan yang menyinggung perasaan, banyak pertemanan yang akhirnya berujung pertengkaran dan permusuhan dikarenakan ucapan yang salah keluar dari lisan. Oleh karena itu, jika kita tidak mampu berkata baik, maka diam jalan yang paling bijak.