Aksi Koboi Amerika Terjadi di Thailand, Tapi Pelakunya Tentara, Ada Apa?

Biasanya aksi-aksi koboi jalanan atau aksi tembak massal terjadi di negeri Paman Sam atau negara Amerika. Dimana memang pelakunya dominan adalah masyarakat sipil. Hal tersebut dipicu dari bebasnya warga Amerika di dalam kepemilikan senjata api di masing-masing warganya.

Jika kita melihat dua tahun ke belakang, aksi koboi atau kasus tembak massal tesebut berjumlah 6 kasus. Dimana menurut beberapa riset yang ada, sebelum tahun 2011 disebutkan bahwa periode waktu serangan massal tersebut 200 hari per sekali kejadian. Dan meningkat 3 kali lipat setelah tahun 2011, dimana rentang waktunya 64 hari sekali.

Itu artinya jika dalam setahun ada 365 hari, maka prediksi terjadinya kasus yang sama akan berjumlah 5-6 kasus per tahunnya. Sungguh jumlah yang amat fantastis dan mengerikan.

Kemudian aksi yang sama telah terjadi di Thailand. Dimana seperti yang dilansir oleh CNN.com (8/2/2020), meskipun pelakunya bukan masyarakat sipil tapi pihak militer hal ini menjadi sebuah kekuatiran dan perhatian kita bersama. Setidaknya dari aksi koboi jalanannya itu telah menewaskan 12 orang yang tidak bersalah. Sehingga pertanyaannya, atas kasus tersebut, ada apa dengan tentara Thailand?

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha telah memantau situasi tersebut dengan serius, dan menyampaikan belasungkawa kepada korban tewas. Di antara korban yang meninggal terdapat Kolonel Anantharot Krasae, yang merupakan komandannya langsung, serta perempuan 63 tahun.

Si pelaku yang bernama Jakraphant Tomma mengklaim bahwa aksinya tersebut adalah sebuah aksi untuk bersenang-senang. Dan jika kita simpulkan maka jiwa tersebut sedang mengalami sakit yang akut dan amat membahayakan bagi banyak orang yang kemungkinan jadi korban dari aksi gilanya tersebut. Oleh karena itu, belajar dari kisah itu, supaya kita mungkin terus meningkatkan kewaspadaan ketika dimana-pun berada. Sambil berdoa dan mengharapkan supaya tidak terjadi lagi kasus yang sama.